Mil Yang Pertama (First Mile)


Mil pertama (first mile) adalah mil kewajiban, tuntutan, atau paksaan yang kita terima dalam kehidupan. Kita dapat berjalan dalam mil ini karena ada tuntutan atau tekanan yang memaksa kita. Tekanan atau tuntutan ini dapat berasal dari kita sendiri, orang lain, organisasi, dan lingkungan. Mil ini dapat kita kerjakan karena aturan, tugas, kewajiban, tanggung jawab, dan mil ini saya namakan mil pamrih (intention mile). Kita hanya menyelesaikan mil ini karena ada tuntutan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan atas kita. Mil ini adalah mil yang biasa kita tempuh atau lakukan. Bekerja, sekolah, menikah, atau mendidik anak adalah mil pertama karena ini adalah hal-hal yang biasa kita lakukan. Mil ini juga merupakan mil di mana kita merasa aman, nyaman, dan tanpa tantangan. Inilah yang sering disebut dengan zona kenyamanan (comfort zone) atau comfort mile. Sadar dan tidak sadar, mau tidak mau, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan paksaan yang dituntutkan atas kita. Kenyataan bahwa paksaan atau tuntutan inilah yang membuat manusia dapat bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Dan, paksaan atau tuntutan ini juga telah membuat dunia penuh dinamika dan terus bertumbuh. Apa pun yang kita kerjakan hari ini, kita akan menemukan paksaan atau tuntutan tersebut dan tidak ada orang yang bisa menghindarinya. Di rumah, lingkungan, organisasi, masjid/gereja, sekolah, tempat kerja, bisnis, dan di mana pun, tuntutan dan tekanan terus mengejar bagaikan bayangan pada siang hari yang membuntuti kita. Untuk mengatasi tuntutan ini hanya ada satu jalan yang bisa kita pilih, yaitu menghadapinya. Jangan takut. Paksaan dan tuntutan adalah bagian dari kehidupan. Justru ketika kita memikirkannya secara dewasa, tuntutan akan membawa kita keluar dari kebiasaan atau kenyamanan kita (comfort mile) menuju kehidupan yang lebih baik. Tekanan dan tuntutan adalah satu-satunya cara mendewasakan dan menjadikan kita manusia yang lebih tinggi dari sebelumnya. Misalnya, sebagai seorang karyawan kita akan dipaksa dan dituntut berada di kantor dari pukul 08.00 hingga 17.00, dari Senin hingga Jumat. Inilah yang namanya bekerja. Kita juga dituntut oleh sebuah kebutuhan hidup (kebutuhan pangan, sandang, dan papan) yang harus kita penuhi dengan bekerja dan berusaha. Sebagai karyawan kita juga dipaksa mengerjakan atau menyelesaikan target-target atau tanggung jawab yang sudah diwajibkan atau dituntutkan oleh perusahaan. Sebagai mahasiswa kita dituntut menyelesaikan studi, melakukan penelitian, dan membuat tulisan-tulisan ilmiah. Sebagai seorang pengusaha kita juga dituntut memperoleh laba (profit) atau terus meningkatkan target bisnis. Sebagai suami kita dituntut mencari nafkah bagi keluarga. Sebagai suami-isteri kita di tuntut selalu saling mencintai dan setia. Sebagai orangtua kita dituntut membesarkan anak-anak dalam kasih sayang dan membawa mereka menjadi pribadi yang kuat dan berhasil di masa depan. Sebagai umat beragama kita dituntut menjalankan semua ajaran-ajaran agama. Bahkan, sebagai anak-anak kita juga dituntut belajar meraih cita-cita serta berdisiplin sejak dini. Inilah kenyataannya yang harus kita hadapi bahwa kehidupan adalah tantangan dan dunia yang kita diami dipenuhi tuntutan atau paksaan. Masalahnya, terkadang tuntutan dan paksaan ini acap kali membuat kita tidak dapat menikmati kehidupan. Kita lebih sering tertekan, mengeluh, dan memberi respons negatif dan destruktif. Inilah yang menyebabkan kita sering kali ”menyerah” dan ”mengalah”, bahkan menjadi racun bagi banyak orang di sekitar kita—termasuk juga perusahaan di mana kita bekerja. Tuntutan dan paksaan ini membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak mensyukuri kenikmatan hidup yang Tuhan berikan. Dengan demikian saat bekerja, kita sering kali mengeluarkan perkataan-perkataan seperti I don’t like Monday atau TGIF—Thanks God Its Friday. Bahkan, lebih parah lagi kita sering kali melontarkan lelucon: a little little to me, salary no up up (sedikit-sedikit saya, gaji tidak naik-naik)”. Keluhan-keluhan spontan ini terlontar tanpa kita sadari dan perlahan-lahan akan berdampak buruk bagi pekerjaan kita. Kita kehilangan keantusiasme dan semangat dalam bekerja dan akhirnya berdampak lebih buruk lagi, yaitu terancamnya karier kita—terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Kebanyakan kita lebih sering ”mengerutu atau bersungut-sungut dengan apa yang kita hadapi—tugas maupun tanggung jawab—hari ini. Kita sama sekali tidak menikmati dan cenderung bekerja hanya untuk sekadar menyelesaikan kewajiban atau tuntutan pekerjaan, tanpa memiliki gairah yang lebih. Pekerjaan kita anggap sebagai ”benda” bukan ”sahabat” yang harus kita nikmati dalam perjalanan penyelesaiannya. Kebanyakan kita menjadi ”robot” dalam menyelesaikan semua tanggung jawab dan pekerjaan kita dan hanya menikmati ketika hari gajian tiba—setelah dan sebelum gajian kita hanya menikmati pekerjaan sebagai tugas yang harus diselesaikan saja. Setiap hari mata kita hanya terfokus pada angka 5 pada jam dinding kantor dan bersiap-siap berkemas untuk pulang. Teng langsung go (tango) adalah istilah umum yang biasa kita dengar di kantor. ”Jika pekerjaan dihabiskan hari ini, besok kita kerja apa?”, demikian seloroh yang sering muncul di kantor. Pekerjaan atau tanggung jawab bukan hanya untuk diselesaikan, tetapi harus dinikmati detik demi detik sehingga timbul keindahan-keindahan di dalamnya. Alasan kita tidak mampu menghasilkan kreativitas dan inovasi baru dalam pekerjaan adalah karena kita tidak menikmati proses penyelesaian pekerjaan, melainkan hanya berpuas hati dengan menyelesaikannya saja. Dengan begitu kita merasa telah melakukan yang terbaik. Jika bermental menyelesaikan saja, kita tentu tidak akan pernah menghasilkan karya yang luar biasa. Dahulu saya suka sekali menggunakan istilah ini untuk menggambarkan suasana tekanan atau tuntutan dalam pekerjaan saya sebagai karyawan: ”Kerjanya hus, hus, hus. Gajinya ecring, ecring, ecring. Bonusnya nyaris tak terdengar” (meniru salah satu iklan mobil di televisi nasional beberapa tahun lalu). Perasaan negatif dan dikalahkan ini berdampak buruk yaitu mengerdilkan karier. Bahkan dalam kehidupan saya yang lebih luas, saya lebih mudah mengeluh, marah, tertekan, dan mudah emosional serta menyalahkan orang lain atau situasi dalam menanggapi segala sesuatu. Segala hal memang tampak baik-baik saja dan saya menganggap saya masih menjadi pribadi yang ”hebat” dan kuat dalam pekerjaan, khususnya dalam pencapaian target-target yang dibebankan perusahaan. Namun, sesungguhnya saya telah menjadi pribadi yang rapuh; saya sebenarnya telah kehilangan esensi pekerjaan dan tidak menikmati keindahannya. Saya bagaikan ”robot” yang hanya digerakkan oleh sistem manajemen. Saya bekerja hanya pada garis yang sudah ditetapkan, tanpa kreativitas sama sekali. Tanpa disadari keadaan ini membawa dampak buruk bukan saja bagi pekerjaan, tetapi juga bagi orang-orang yang kita cintai—saat tertekan, kita menjadi emosional dan mudah meledak. Begitupun dalam kehidupan berkeluarga. Kita sering kali menjadi ”robot” dalam keluarga. Dalam keluarga, kita justru tidak menikmati pasangan dan anak yang kita miliki. Kita justru menjadikan mereka sebagai sebuah beban atau tekanan. Sebagai ayah, kita sering menganggap rumah sebagai tempat istirahat saja. Kita menganggap persoalan-persoalan rumah tangga yang sepele, seperti memasang lampu, memperbaiki keran air, membantu mengerjakan pekerjaan rumah anak-anak, sebagai tekanan atau tuntutan yang berat. Rumah yang saya maksudkan bukan bangunan dengan dinding-dinding dan atapnya. Rumah baru dapat dikatakan rumah jika di dalamnya berdiam ayah, ibu, anak-anak, atau kerabat kita. Rumah adalah tempat kita berlabuh, tempat kita tertawa bahagia, dan membagi tawa itu pada anggota di dalamnya. Di rumah ada tangan yang terentang bagi anak-anak ketika mereka pulang dan bangun tidur. Di rumah ada telinga yang mendengar setiap keluh kesah dan curahan hati kita. Di rumah tersedia ruang untuk saling berbagi. Keluarga adalah tangisan bayi, senandung ibu, kekuatan ayah, kehangatan hati yang mengasihi, sinar mata bahagia, keramah-tamahan, dan persahabatan. Bagi anak-anak rumah merupakan sekolah dan tempat ibadah mereka yang paling awal, di mana mereka belajar apa yang baik, tidak baik, benar, dan salah. Rumah adalah tempat di mana mereka terhibur saat terluka, tempat di mana mereka bersukacita bersama dan kesulitan terasa lebih ringan. Semua ini menciptakan tuntutan atau paksaan yang dapat membuat kita tertekan. Lalu bagaimana melihat semua itu sebagai sebuah keindahan keluarga? Tentu saja dengan memiliki pandangan mile kedua (second Mile). Memang tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi orangtua (keluarga) merupakan tugas paling berat. Saya bahkan mengakuinya sebagai sesuatu yang lebih berat daripada pekerjaan. Namun, jangan kawatir. Ada cara sederhana, praktis, dan bijak untuk melepaskan kita dari tekanan tersebut. Karena tekanan itu kita ciptakan sendiri, ketenangan hati dan menikmati keindahan keluarga adalah pilihan yang harus kita buat. Oleh sebab itu putuskanlah bahwa menjadi orangtua adalah bagian terpenting dalam hidup. Buatlah rumah atau keluarga bukan sebagai beban, tetapi tempat terindah untuk setiap anggotanya menikmati hidup. Ini hanyalah sebuah pilihan saja. (boks + raster, font berbeda dari bodytext) Suatu kali seorang ayah pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Setiap hari selama bertahun-tahun ia melakukan aktivitas yang sama, pergi ke kantor pagi-pagi dan pulang ke rumah pada malam hari. Sebuah aktivitas yang biasa dilakukan semua karyawan dan kaum profesional di kota besar, khususnya Jakarta. Suatu malam sang anak bertanya jumlah gaji ayahnya. Mendapat pertanyaan demikian, sang ayah cukup terkejut. Kemudian ia balik bertanya, ”Mengapa kau menanyakannya? Apa kau ingin minta uang jajan?” ”Tidak, hanya ingin tahu saja.” jawab si anak singkat. Sang ayah kemudian menjawab, ”Ayah bekerja 10 jam setiap hari dengan gaji Rp400 ribu per hari.” ”Jadi dalam satu jam, Ayah dibayar Rp40 ribu?” tanya sang anak. ”Kalau begitu bolehkan aku membayar ayah Rp20 ribu untuk malam ini?” pintanya polos. Belum hilang keheranan sang ayah, si anak melanjutkan, ”Kata Ibu, waktu Ayah sangat berharga. Jadi aku mau membelinya. Boleh, kan? Setengah jam saja karena aku hanya punya Rp20 ribu dari tabunganku.” (akhir boks) Kisah tersebut menggambarkan bagaimana kita telah kehilangan waktu yang terbaik bersama buah hati. Kebutuhan atau tuntutan hidup sering kali membuat kita kehilangan makna kehidupan, kehilangan waktu dan perhatian yang terbaik bagi keluarga, pasangan, dan anak-anak. Berdalih demi masa depan keluarga, anak, dan karier, kita sesungguhnya telah kehilangan waktu yang terbaik. Kita kehilangan waktu untuk bercanda dan tertawa, bermain dan berdiskusi dengan mereka. Tanpa disadari waktu-waktu telah membesarkan mereka tanpa sentuhan kita. Kita hanya memiliki dan membesarkan anak tanpa menghidupinya. Marilah kita mulai berfokus pada mereka karena keberhasilan kita di rumahlah yang akan membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang sukses di luar sana. Rumah adalah titik tolak keberhasilan kita. Jangan pernah berpikir bahwa keberhasilan di luar rumah dapat membawa keberhasilan di rumah. Figur ayah adalah pahlawan bagi anak-anak (my father my hero). Untuk itu investasi yang terbaik yang dapat kita berikan, khususnya bagi anak-anak, adalah waktu dan kualitas komunikasi. Spencer Jhonson berkata, ”Cara terbaik agar anak-anak mendengarkan kita adalah dengan mendengarkan mereka.” Memang agak dilematis ketika kita harus memilih memberi waktu bagi keluarga atau pekerjaan, mengingat waktu kita terbatas. Namun, ukuran waktu yang kita berikan pada keluarga bukanlah kuantitas waktu, melainkan kualitasnya. Ini berarti bukan banyaknya waktu yang kita berikan kepada keluarga, tetapi apa yang sudah kita lakukan secara bermakna bersama keluarga. Maksimalkan waktu makan malam, waktu jalan pagi, waktu belajar bersama, waktu doa bersama, waktu bermain, waktu berkebun, waktu makan di luar bersama, dan waktu berekreasi. (boks di samping teks) ”Modal yang kita investasikan ke dalam keluarga akan dijamin untuk kembali bahkan 100 tahun mendatang.” ~Steve Farrar (akhir boks di samping teks) Theodore Roosevelt, mantan presiden Amerika Serikat, berkata, ”Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dengan keluarga daripada dengan petinggi-petinggi dunia manapun.” Jenderal Douglas MacArthur, salah satu jenderal yang terkenal Amerika pada perang dunia kedua, juga memiliki pendapat yang sama, ”Profesi saya adalah tentara dan saya bangga. Namun, saya lebih bangga, luar biasa bangga menjadi seorang ayah. Seorang tentara menghancurkan demi membangun, seorang ayah hanya membangun, tidak pernah menghancurkan. Yang satu berpotensi maut, yang lain mewujudkan penciptaan dan kehidupan.” Ketika saya mulai banyak bergaul dan membaca buku-buku serta cerita-cerita inspirasi dari pribadi-pribadi yang kuat dan positif, cara atau pola pikir saya mengalami transformasi dan mulai saat itu saya mulai melihat dengan jelas bahwa semua tuntutan dan paksaan itu baik, dan melihat ada keindahan-keindahan di dalamnya. Secara perlahan-perlahan, ini menimbulkan perubahan-perubahan positif dan menjadikan saya pribadi yang mampu melihat sisi-sisi yang dulu tak terlihat, sisi-sisi kebaikan dari apa yang dulu saya anggap sebagai sebuah keburukan. (boks di samping teks) ”Kenikmatan bertani bukan pada penyelesaian baris akhir dari benih padi yang harus kita tanam. Namun, kenikmatan itu diperoleh ketika kita menunduk, di mana ada tetesan keringat yang jatuh, sambil menanam benih padi, dan istirahat sejenak sambil berdiri menghirup dan menikmati angin yang bertiup diiringi nyanyian daun-daun bambu.” ~diinspirasi dari sebuah Film Fearless yang dibintangi Jet Li (akhir boks di samping teks) Pergumulan-pergumulan kehidupan, baik di rumah tangga, lingkungan masyarakat, dan pekerjaan adalah mil pertama (first mile) yang harus kita lalui. Sebagai seorang karyawan kita terkadang terbangun pada malam hari karena begitu tertekan dengan tanggung jawab atau target yang membebani tanpa henti dan terus meningkat intensitasnya, seiring peningkatan karier dan tanggung jawab. Situasi ini sering membuat kita kehilangan kebahagiaan, bahkan kehilangan identitas diri. Terkadang kita duduk-duduk sampai jauh malam untuk mencoba memikirkan apa yang harus kita kerjakan besok, dan bagaimana mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang sedang kita hadapi. Dan, kita sering kali tidak menemukan jawabannya, semakin tertekan, dan tidak dapat tidur sampai fajar menyongsong. Saya juga pernah mengalami hal yang sama dan sering berkata, ”Mengapa saya tidak bahagia dan tidak dapat menikmati semuanya?” Apa yang salah dengan diri saya?” Sepertinya ada sesuatu di dalam diri, yang sangat menguras seluruh energi kebahagiaan dan kekuatan hati saya. Kondisi ini membawa keengganan untuk pergi bekerja keesokan harinya. Ada beban yang begitu berat yang harus dipikul. Bahkan, kondisi ini mengganggu kesehatan, khususnya kesehatan pencernaan saya. Saya sungguh tertekan dengan semua pekerjaan, sampai suatu saat saya membaca sebuah kalimat bijak: ”Berjalanlah bersama dia sejauh dua mil”. Tiba-tiba saya mendapat pencerahan dan energi baru seperti keluar dari hati. Jalan keluarnya adalah tidak menjadi depresi, takut, atau lari dari tuntutan, tetapi berjalan dengan tuntutan atau paksaan tersebut dengan pandangan dan sikap yang berbeda. Jadi, nikmatilah tuntutan tersebut sebagai teman perjalanan, berjalanlah terus dengan berani, nikmati setiap kelokan-kelokan, bukit-bukit terjal dan jurang-jurangnya yang curam, dan tanpa disadari, kita sudah sampai di mil kedua (second mile). Tuntutan atau paksaan adalah anak tangga untuk mencapai mil berikut. Tanpanya kita hanya akan menjadi pribadi-pribadi yang berjalan di tempat. Hari ini jika ada tantangan dan tekanan dalam hidup kita, jangan menyerah, tetapi tetaplah fokus menyelesaikannya sebagai seorang pemenang. “The Winner never quit but The Quitters never win.” Selamat datang dalam perjalanan 2nd Mile!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s