Berapa Gaji Ayah?


Suatu kali ada seorang ayah pulang ke rumahnya dalam keadaan lelah. Setiap hari selama bertahun-tahun ia melakukan aktifitas yang sama, pergi ke kantor pagi-pagi dan pulang ke rumah di malam hari. Sebuah aktifitas yang melanda semua karyawan dan kaum profesional di kota besar, khususnya kota Jakarta. Suatu malam anaknya bertanya padanya, ”Berapa gaji ayah?” Ayahnya cukup kaget atas pertanyaan tersebut. Kemudian ayahnya bertanya balik, ”Mengapa kamu tanyakan hal itu nak, mau minta uang jajan ya?” ”Ah enggak, hanya pengen tahu aja. ”Jawab anaknya. Ayahnya kemudian menjawab, ”Ayah bekerja 10 jam setiap harinya, dengan gaji 400 ribu perhari.” ”Berarti dalam satu jam, ayah dibayar 40 ribu dong, ”Jawab anaknya. ”Bolehkan aku membayar ayah 20 ribu untuk malam ini?” pinta anaknya merengek. ”Mengapa kau mau membayar ayah, nak?” ,tanya ayahnya penasaran. Kata Ibu, ”waktu ayah itu sangat berharga, jadi aku mau membeli waktu ayah.” ”Boleh nggak yah?” ”Setengah jam saja, karena aku cuma punya uang 20 ribu dari tabunganku.” Sebuah cerita kecil yang menggambarkan bagaimana kita telah kehilangan waktu yang terbaik bersama buah hati kita. Kebutuhan atau tuntutan kehidupan seringkali membuat kita kehilangan makna kehidupan, kita kehilangan waktu dan perhatian yang terbaik bagi keluarga, pasangan dan anak-anak. Dalih demi masa depan keluarga, demi anak dan demi karir tetapi kita telah kehilangan waktu yang terbaik. Kita kehilangan waktu bercanda/tertawa, bermain dan berdiskusi dengan mereka. Tanpa disadari waktu-waktu itu telah membesarkan mereka tanpa sentuhan kita. Kita hanya memiliki anak dan membesarkan mereka tanpa menghidupinya. Marilah kita mulai berfokus pada mereka karena keberhasilan di rumahlah yang akan membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang sukses di luar, bukan sebaliknya. Rumah adalah titik tolak keberhasilan kita, keberhasilan di rumah akan membawa kita dapat berhasil di luar. Jangan dibalik dan jangan pernah berpikir bahwa keberhasilan di luar rumah dapat membawa keberhasilan di rumah. Figur ayah adalah pahlawan bagi anak-anak (my father my hero), untuk itu investasi yang terbaik yang dapat kita berikan khusus pada anak-anak adalah waktu dan kualitas komunikasi. Spencer Jhonson berkata, ”Cara terbaik agar anak-anak kita mendengarkan kita adalah dengan mendengarkan mereka. Memang agak dilematis ketika kita harus memilih memberi waktu bagi keluarga atau pekerjaan, mengingat waktu kita yang terbatas. Waktu yang kita berikan pada keluarga bukan kuantitasnya melainkan kualitasnya, itu berarti bukan banyaknya waktu yang kita berikan kepada keluarga tetapi apa yang sudah kita lakukan secara bermakna bersama keluarga. Maksimalkan waktu makan malam, waktu jalan pagi, waktu belajar bersama, waktu doa bersama, waktu bermain mobil-mobil/boneka-bonekaan, waktu berkebun, waktu makan di luar bersama dan waktu rekreasi.
”Modal yang kita investasikan ke dalam keluarga akan dijamin untuk kembali bahkan 100 tahun mendatang.” (Steve Farrar)
Theodore Roosevelt, mantan presiden Amerika Serikat berkata, ”Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dengan keluarga daripada dengan petinggi-petinggi dunia manapun. Jenderal Douglas MacArthur, salah satu jenderal yang terkenal Amerika pada perang dunia kedua berkata, ”Profesi saya adalah tentara dan saya bangga akan hal itu, tetapi saya lebih bangga, luar biasa bangga menjadi seorang ayah. Seorang tentara menghancurkan demi membangun, seorang ayah hanya membangun, tidak pernah menghancurkan. Yang satu berpotensi maut, yang lain mewujudkan penciptaan dan kehidupan”.

Advertisements

One thought on “Berapa Gaji Ayah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s