Nilai-nilai (values)


Sebuah paradoks atau ketidaksinkronan telah terjadi di zaman kita, Billi PS. Lim berkata dalam salah bukunya, “Kita memiliki banyak gedung tinggi tetapi sikap lebih pendek. Jalan lebih luas tetapi pAndangan lebih sempit. Kita belanja lebih banyak, tetapi memiliki lebih sedikit. Kita membeli lebih banyak, tetapi kurang menikmatinya. Kita memiliki rumah lebih besar, tetapi memiliki keluarga lebih sedikit. Kita punya lebih banyak gelar, tetapi lebih sedikit kepAndaian. Lebih banyak pengetahuan, tetapi tidak memiliki hikmat. Lebih banyak ahli, tetapi lebih banyak masalah. Lebih banyak obat, tetapi lebih banyak orang sakit. Kita menggAndakan kekayaan kita tetapi mengurangi nilai hidup kita. Kita terlalu banyak bicara tetapi sedikit mendengar. Kita telah mencari nafkah tetapi bukan kehidupan. Kita menambah umur tetapi bukan umur kehidupan. Kita telah bolak-balik ke bulan tetapi terlalu sulit menyeberang ke tetangga. Kita memiliki lebih banyak memberi makan anak tetapi sedikit memilikinya. Kita memiliki pendapatan lebih tinggi tetapi moral lebih rendah. Kita punya banyak kenalan tetapi sedikit sahabat. Keuntungan tajam tetapi hubungan tumpul. Lebih banyak bersenang-senang tetapi sedikit bahagia”.
Bahkan sebuah paradoks yang akhir-akhir ini kita temukan di dunia digital dan jaringan sosial yaitu “Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh atau istilah anak muda “autis”. Semua ini gara-gara dunia berada dalam genggaman, melaui facebook, Twitter, blackberry messenger dan yahoo! messenger.
Dan masih banyak paradoks yang lainnya. Mengapa hal ini terjadi? karena kita hidup di zaman yang mengalami perubahan yang begitu cepat sehingga terkadang nilai-nilai luhur dimasa lalu menjadi tertinggal. Dunia saat ini hanya dinilai secara hasil dan pencapaian. Dunia yang kita diami telah kehilangan nilai-nilai atau norma-norma dalam masyarakat. Kasus mafia kasus, mafia hukum, skandal kepolisian, skandal kejaksaan, skandal gubernur/bupati adalah contoh-contoh kalau manusia atau petinggi bahkan aparat hukum yang seharusnya menjadi teladan pun telah kehilangan nilai-nilai kehidupan (values of life). Semua bisa dibeli dan dinilai dengan uang bahkan nilai-nilai yang hakiki seperti hukum dan integritas. Bahkan nilai-nilai hubungan atau silaturami pun mulai menurun, tidak ada lagi ”kunjung mengunjungi” karena teknologi digital telah menggantikannya. Ucapan ulang tahun, hari besar atau ucapan selamat cukup dengan sms atau messenger lainnya, tidak ada lagi tatap muka atau bersua. Biaya yang murah dan efisien menjadi alasan yang utama, apalagi hidup dikota besar seperti di Jakarta, rasanya silaturami menjadi sesuatu yang mubasir dan mahal.
Nilai-nilai adalah ”nilai nurani” (values of being) yang ada dalam diri manusia yang kemudian berkembang menjadi keyakinan dan perilaku. Nilai juga merupakan standar yang hakiki dan luhur dari manusia. Inilah inti dari manusia itu sendiri. Yang termasuk dalam nilai-nilai adalah kejujuran, keberanian, cinta damai, keadilan, disiplin, tahu batas, kemurnian, kesetiaan, dapat dipercaya, hormat, rasa sayang, baik hati, ramah, dan murah hati. Tolak ukur dari nilai-nilai ini adalah benar dan salah, nilai positip disebut kebenaran dan nilai yang negatif disebut kekeliruan. Nilai-nilai adalah landasan utama sebuah kehidupan spiritual, moralitas dan kemanusiaan. Nilai-nilai adalah sebuah etika atau ”ethikos” yang berarti timbul dari kebiasaan. Nilai-nilai mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik buruk dan tanggung jawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s