the Power of Forgiveness


Ada sebuah kisah nyata terjadi di tahun 1980, Chaterine Blount 19 tahun , ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan. Chaterine meninggal karena tikaman pisau yang dilakukan secara brutal oleh orang yang tak dikenal. Beberapa waktu kemudian pembunuhnya tertangkap ternyata ia seorang pria setengah baya yang bernama Douglas Mickey yang tidak dapat menyebutkan motif perbuatannya mengapa ia tega menghabiskan nyawa Catherine di taman kota.
Sejak Gayle mengetahui anaknya dibunuh , ia melewati masa kegelapan dalam hidupnya. Perilakunya jadi aneh dan tidak terkontrol, ia sering berteriak-teriak seperti gila saat ia melampiaskan kepedihan dan beban emosinya, ia tidak tahu mau berbagi dan cerita dengan siapa. Dua anaknya lagi berada di kota lain untuk menempuh sekolah kedokteran. Sementara suaminya memutuskan untuk melupakan kejadian buruk itu.
Makan waktu yang lama bagi Gayle untuk berjuang sendiri guna menekan semua perasaan marah, emosi dan sakit dalam jiwanya, karena Chaterine adalah putri kesayangannya. Setelah 8 tahun dalam kemarahan, dendam dan kesedihan yang mendalam, Gayle menemukan guru yang luar biasa yang membimbingnya untuk meminta maaf dengan meneladani Tuhan yang maha pemaaf.
Awalnya ia menolak, jiwa dan batinnya memberontak, tetapi lama kelamaan ia mendengar ada suara yang berbicara dalam hatinya, “you must forgive him and you must let him know “ suara itu terus menggema dalam hatinya dan membuat ia tidak dapat tidur . Malam itu Gayle mengikuti dorongan hatinya, ia menulis surat kepada Douglas Mickey sang pembunuh anaknya. Ia berbicara jujur tentang perasaannya terhadap anaknya. Diparagraf pertama suratnya…Gayle menulis

(“Dua belas tahun yang lalu, aku memiliki anak perempuan yang cantik bernama Chaterine . Dia adalah gadis yang punya bakat dan cerdas. Dia memiliki tubuh langsing dan kulitnya bercahaya. Dia sehat dan penuh vitalitas, dia memiliki rambut yang bergelombang alami, mata yang bersinar, senyum yang indah bahka ia selalu memancarkan cinta dan kebahagiaan buat kami)
Gayle menulis dengan gemetar dan penuh air mata, ia menaha rasa sakit yang terus memberontak dalam hatinya, ia memutuskan menulis jujur kepada pembunuh anaknya bahwa ia sangat terluka dan marah.
(Aku sangat marah padamu dan aku ingin kamu dihukum seberat-beratnya. Kamu telah membuat kerusakan yang parah kepada keluargaku dan impian masa depanku)
Setelah denga jujur mengatakan perasaannya, Gayle bercerita pada pembunuh anaknya tentang perjuangannya selama 8 tahun untuk belajar memaafkan Mickey dan di salah satu bagian suratnya ia mengatakan……
(Aku terkejut ketika menemukan diriku dapat memaafkanmu)
Diawal surat ia mengatakan begitu marah , dendam dan terpuruk tapi di bagian akhirnya ia mengatakan….
(Aku harap surat ini dapat membantumu menutup masa lalu dan menatap masa depan. Hanya ada cinta dan kebaikan di dunia ini yang sekarang mendekat kepadamu. Aku mau menulis surat ini kepadamu atau mengunjungi mu jika kau berkenan. Aku mengirimkan doa untukmu dan untuk anak-anakmu – Gayle –Ibu Chaterine)
Beberapa hari setelah surat itu dibuat, Gayle masih belum mengirimkannya karena dorongan dan tarikan dirinya begitu dasyat. Berkat dorongan teman-temannya akhirnya dengan tangan gemetar Gayle memasukkan surat itu ke dalam kotak surat dan mengirimkannya. Dan ketika surat itu masuk kedalam kotak Gayle merasakan semua benci, denda, marah, sakit hatinya yang ia simpan selama 8 tahun hilang…… kini hatinya dipenuhi perasaan maaf kepada pembunuh anaknya.
Tak lama kemudian Mickey mengirimkan surat balasan kepada Gayle, berisi penyesalan dan permohonan maaf , bahkan mengirimkan fotocopy izin menjenguk ke penjara San Quentin, jika Gayle bersedia. Mulanya si kepala penjara ragu apakah ini langkah yang baik untuk mengizinkan Gayle bertemu Mickey. Birokrasi hukum pun berbelit sehingga membutuhkan waktu 6 bulan.
Saat-saat pertemuan pun menjadi momen yang paling mengharukan. Gayle melepas semua kepedihan hatinya langsung di depan pembunuh anaknya, keduanya saling menangis, m menumpahkan semua rasa sedih dan penyesalan. Dalam suasana yang memiluka itu mereka saling bercerita tentang perasaan masing-masing.
Gayle mengerti dimalam ketika ia kehilangan anaknya, malam itu juga Mickey kehilangan masa depannya. Ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami kepedihan yang mendalam. Mickey juga meratapi tindakannya. Dalam surat terakhirnya kepada Gayle, Mickey berkata,”Andaikan saya mampu menukar nyawa saya sekarang dengan nyawa Chaterine,,,,,,”
Akhirnya Mickey tetap dihukum mati oleh apa yang ia buat. Tetapi Gayle merasa kematian Mickey bukanlah obat bagi kepedihannya. Dia merasa obat bagi semua kepedihannya adalah saat ia menang melawan dirinya, yakni dengan MEMAAFKAN!
Kini untuk mengenang anaknya dan mengkampanyekan the Healing Power of Forgivenss. Gayle mendirikan yayasan yang diberi nama Chaterine Blount Foundation.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s