Kisah Jack Daughery


“Ketika saya masih kanak-kanak,” kenang Jack Daughery, “saat saya memetik buah ceri sepuluh jam sehari di tengah terik matahari musim panas, saya ingat bahwa saya membenci para tuah kebun yang gemuk-gemuk dan berpakaian perlente beserta mandor-mandor lapangan mereka. Dan ketika saya melihat anak-anak mereka yang manis-manis menaiki kuda poni melintasi kebun-kebun itu, saya membenci diri saya sendiri karena baju saya yang sudah rombeng dan wajah saya yang kotor. Dan bila kemudian saya banyak memikirkan Tuhan kembali, barangkali saya juga akan membenci-Nya juga lantaran ketidakadilan dan ketimpangan yang menimpa orang tua saya dan saya sendiri selama masa kanak-kanak saya.”

Pada umur empat belas tahun, Jack pergi bekerja dengan orang tuanya di sebuah pabrik pemrosesan kentang di Grand View, Washington. “Pekerjaan saya yang pertama adalah mencabuti rumput di ladang yang ada di sekitar saluran air yang terbuat dari kayu,” begitu kenangnya. “Tikus dan ular derik bersembunyi di bawah tempat air dari kayu yang panjang itu. Setiap kali saya menjulurkan tangan ke dalam untuk memungut rumput dan sampah, saya khawatir jangan-jangan seekor tikus akan menggigit jari saya sampai putus atau seekor ular derik akan menancapkan taringnya ke tangan saya.

Pada waktu saya berumur lima belas tahun, saya dapat mengangkat kantong kentang seberat seratus pon di atasbahu saya dan melemparkannya ke dok pemuatan barang. Akhirnya setelah bekerja di setiap posisi di dalam dan di sekitar ladang kentang dan pabrik pemrosesan itu, para pemiliknya mengangkat saya menjadi manager. Tak lama kemudian saya menikahi Rita, putri seorang petani yang dibesarkan di ladang-ladang Nebraska.

Menjadi manajer pabrik itu merupakan suatu pencapaian yang jauh melampaui harapan apa pun yang dimiliki keluarga saya terhadap saya. Dan saya mengelola pabrik itu seolah-olah saya memilikinya sendiri. Saya datang lebih awal dan pulang lebih lambat. Sewaktu orang lain berbondong-bondong pergi keluar saat peluit berbunyi pada jam lima sore, saya menghabiskan empat atau lima jam berikutnya untuk memastikan bahwa segala seuatunya siap untuk giliran kerja esok harinya. Bagaimana pun juga, saya adalah anak seorang pekerja musiman. Saya memiliki mentalitas giat bekerja siang malam.

Dalam waktu singkat saya harus mengakui bahwa Rita benar. Saya jarang bertemu dengannya. Kami mengalami perceraian dua belas jam setiap harinya. Ia bekerja keras sebagai perawat kecantikan. Saya praktis hidup di dalam pabrik itu. Dan jauh di dalam lubuk hati, kian lama saya menjadi kian tidak puas. Saya gagal sebagai suami dan ayah, jadi bagaimana saya dapat mencintai diri saya sendiri?

Saya bekerja dua belas sampai empat belas jam per hari dan tidak mendapatkan ucapan terima kasih dari majikan-majikan saya atau dari para bawahan saya untuk jerih payah saya itu, jadi bagaimana mungkin saya mencintai mereka?

Dan Tuhan makin lama menjadi makin jauh. Saya tidak mempunyai waktu untuk mencintai atau membenci-Nya. Ia seperti menghilang dari kehidupan saya.”

Demikian tutur Jack panjang lebar.

Jack dan Rita memulai bisnis mereka sendiri yang dapat menolong mereka untuk memperoleh suatu kehidupan milik mereka sendiri. Sewaktu mereka menemukan bisnis Amway tersebut, mereka mengukuhinya dan mencurahkan seluruh kehidupan mereka demi bisnis itu.

Sponsor-sponsor (upline) mereka di bisnis Amway memperlihatkan kepada Jack dan Rita suatu jenis cinta yang tidak pernah mereka kenal dari bos-bos mereka di ladang-ladang buah ceri, atau dari para pemilik pabrik pemrosesan kentang itu. Kumpulan sahabat dan rekan kerja yang mereka temukan di dalam bisnis tersebut merangkul keluarga Daughery untuk merayakan kemenangan-kemenangan mereka, dan memberi mereka dukungan pada masa-masa kegagalan mereka.

Menciptakan kesuksesan di bisnis baru mereka bukanlah hal yang gampang. Dalam waktu singkat mereka paham bahwa mereka harus menunjukkan jenis cinta yang sama kepada pelanggan-pelanggan mereka dan kepada distributor-distributor di dalam kelompok baru yang telah ditunjukkan kepada mereka. Pada awalnya bisnis baru itu menuntut waktu, energi, dan pengorbanan sebanyak yang pernah dikerahkannya di pabrik pengolahan kentang itu.

“Kami hidup di sebuah apartemen kecil yang nyaman,” begitu kenang Rita. “Anda dapat duduk di dapur dan menjangkau apa saja di tempat itu. Kami menginvestasikan uang sebanyak 29 dolar dan beberapa tahun kerja keras guna mewujudkan cita-cita kami.

Mula-mula kami melakukan tugas-tugas rutin pada siang hari dan menjalankan bisnis kecil milik kami sendiri itu pada malam hari dan akhir pekan. Akhirnya kami berdua bekerja secara penuh dalam bisnis Amway itu. Semula hal itu memang sulit, tetapi akhirnya kami berhasil.

Dan kini bisnis ‘kecil’ itu telah mampu menghasilkan jutaan dolar setahunnya. Dan bahkan yang lebih penting, bisnis itu tidak dimiliki orang lain. Itu adalah bisnis milik kami sendiri.

Kini kami bebas untuk menolong diri kami sendiri, dan menolong orang-orang lain menurut cara-cara yang tak pernah kami impikan.”

Apa tujuan-tujuan Anda? Akan anda kemanakan hidup anda itu?

Jack dan Rita cukup mencintai diri mereka sendiri untuk dapat menyusun sejumlah tujuan, untuk menghadapi sejumlah risiko, untuk melakukan sejumlah perubahan. Dalam proses itu mereka mengetahui bagaimana cara mencintai Tuhan dan tetangga-tetangga mereka. Sekarang Jack dan Rita Daughery memiliki uang dan waktu luang untuk mencintai dengan cara-cara yang praktis dan mengubah kehidupan.

Ingatlah kisah tentang Jack Daughery, putra pekerja migran, yang menghabiskan masa kanak-kanaknya untuk memetik buah ceri di tengah teriknya sinar mentari dan untuk mendambakan sesuatu yang lebih baik!

Ingatlah ceritera tentang Rita Daughery, yang dibesarkan di sebuah tanah pertanian di Nebraska yang berharap pada suatu saat nanti ia dapat memiliki usaha sendiri.

Kapitalisme dengan kepedulian sosial (compassionate capitalism) mengulurkan bantuan kepada keluarga Daughery, dan harapan-harapan mereka akan suatu kehidupan yang lebih baik benar-benar terwujud.

(“Compassionate Capitalism” by Rich DeVos, co-founder Amway)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s