Di Bawah Pohon Kuini…..


Di bawah pohon kuini
Tidak ada tempat sebaik “dibawah pohon mangga kuini (mangifera odorata)”, di tempat inilah awal mimpi saya menerobos segala keterbatasan dan kesederhanaan hidup. Di bawah pohon saya mulai menggambar dan menulis mimpi-mimpi saya di atas pasirnya yang putih. Pasir putih menjadi kanvas atas tulisan-tulisan tentang mimpi, yang kemudian membawa saya melompat keluar dan terbang dari kampung kecil Setajam menuju negeri-negeri impian, Bandung, Bogor, Jakarta dan bahkan keliling dunia. Setajam adalah negeri pelontar, semua di mulai dari sini.
Seluruh kemampuan saya berbicara/bercerita/berkomunikasi dan menulis buku dimulai ketika saya mulai suka bercerita kepada teman-teman di bawah pohon-pohon ini. Pasirnya yang putih menjadi kertas dan kanvas tanpa batas, ribuan cerita-cerita, fantasi-fantasi yang telah saya tulis dan ceritakan. Hanya bermodalkan kayu kecil atau lidi kelapa saya terus menulis dan menggambar, sebuah rahasia langit yang Tuhan sediakan di halaman rumah, dengan pasirnya yang putih.
Nuai, Win, Andri dan banyak lagi anak-anak lain duduk tanpa alas dan penuh antusias dan perhatian mendengarkan cerita-cerita karangan saya, berjam-jam mereka mendengar tanpa bosan. Mata mereka memandang kagum akan dunia cerita-cerita yang tidak pernah habis mengalir. Kami tertawa, kami menangis dan kami terhibur dengan cerita-cerita yang mengalir tanpa skenario sebelumnya. Cerita-cerita negeri yang jauh yang belum pernah kami singgah, cerita-cerita dongeng fantasi yang hanya mampu kami bayangkan. Cerita tentang mimpi-mimpi indah tentang kebahagiaan hidup. Cerita tentang petualangan penuh kejutan yang berakhir pada kemenangan.
Ratusan cerita karya imajinasi sendiri dan saduran telah menghipnotis kami anak-anak Setajam, bahwa dunia begitu indah, dunia penuh petualangan, terlalu indah untuk dibuang, terlalu indah untuk tidak di nikmati.

Tempat yang teduh ini telah membawa saya mengerti arti kebhinekaan, arti kesederhanaan mimpi, arti memberi tanpa pamrih, arti kompetisi sehat, arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Dengan kesadaran bahwa kami semua satu, telah memberi semangat persahabatan diantara kami.
Kegaduhan siang hari sering kali menggangu tidur siang (sama seperti anak-anak kecil lainnya, saya diwajibkan oleh orang tua untuk tidur siang), teriakan, tawa, terkadang tangis membawa saya sulit untuk memejamkan mata, walaupun sejenak. Suara-suara teman sepermainan diluar terlalu kuat menggoda untuk saya cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan lari keluar rumah, bahkan tidak jarang melompat dari jendela kamar tanpa sepengetahuan orang tua. Rindangnya pohon kuini (mangifera odorata) telah membawa kami tidak pernah kehilangan indahnya masa kecil, indahnya pasir putih, indahnya kampung Setajam dan indahnya teman-teman yang beragam.
Ibu saya hanya tersenyum, ketika anak-anak semua berlari masuk ke dapur dan membuka kulkas tua kami yang penuh dengan botol-botol air putih. ……IMG-20140923-WA003

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s