Negeri Warna Warni


Negeri Warna Warni
Setajam sebuah kampung Melayu Kepulauan Riau, yang penuh warna-warni, berbagai etnis ada di kampung ini, ada etnis jawa (sebagian besar merupakan pekerja tambang timah yang merantau ke sini), ada etnis Tionghoa (merupakan perantau dari daratan China (tiongkok) – yang awalnya adalah buruh timah dan pedagang), etnis padang, bugis dan etnis batak. Sebagian besar teman kecil saya adalah anak-anak keturunan melayu dan jawa. Pulau Singkep selama 100 tahun telah menjadi magnet untuk menarik banyak perantau datang kesini, Tambang timah, merupakan daya tarik utama pulau ini. yang telah membawa banyak orang-orang berdatangan untuk mencari kehidupan.

Sebagai anak karyawan biasa (rendahan), saya tinggal di komplek pegawai sederhana yang sudah berumur puluhan tahun, dimana biasanya orang-orang menyebutnya dengan ”tangsi” karena perumahan yang sederhana ini bergandeng satu sama lain, dan kebetulan kami mendapatkan rumah yang lumayan baik yaitu berada di sudut (hook), dan hanya bergandengan dua dengan dibatasi satu dinding aja. rumah yang teduh dengan halaman yang luas, ada 4 pohon mangga kuini (mangifera odorata) yang besar, 1 pohon mangga bacang (mangitida foetida), 1 pohon rambutan (nephelium lappaceum), 1 pohon jambu air merah (syzygium aqueum) yang besar di belakang rumah serta beberapa pohon durian belanda/sirsak (annona muricata) di ujung belakang rumah. Rumah ini berpagar pohon-pohon bambu/buluh yang rapat didepan rumah.
Tempat yang ideal untuk anak-anak komplek/perumahan bermain sambil bercengkerama penuh canda tawa. Sepanjang hari akan selalu ada saja anak-anak baik kecil maupun setengah dewasa yang berkumpul dibawah empat pohon kuini yang rindang ini. Dan sepanjang tahun akan selalu datang musim yang menggembirakan bagi anak-anak dimana ke-4 pohon kuini ini berbuah dengan lebatnya. Orang tua saya tidak pernah melarang bagi siapapun untuk mengambil buah yang jatuh, setiap anak sering kali bermain, menunggu sambil mengharapkan jatuhnya buah kuini. ”Siapa cepat ia dapat” demikian hukum yang tak tertulis itu berlaku di bawah 4 pohon kuini ini. Jadi siapapun yang cepat akan mendapatkan kuini yang jatuh, itu berarti miliknya. Bahkan setiap orang tua saya memanennya, sebagian besar hasil dibagikan kepada tetangga. Bagi mereka memberi adalah sebuah kekayaan hidup. Sebuah rahasia langit tentang kekuatan memberi. Prinsip bagi keluarga kami adalah berilah maka kamu akan diberi. ”Apa yang kita tahan bagi kehidupan ini, kehidupan akan menahan hal yang serupa kepadamu”. Mengapa banyak orang hidupnya seperti ”tertahan”, karena mungkin mereka menahan sesuatu bagi orang lain.

”Tidak ada seorang pun yang menjadi miskin karena memberi.”
– Anna Frank

Di bawah pohon kuini (mangifera odorata) inilah saya mengenal bahwa dunia ini penuh warna, dibawah pohon ini saya mengenal arti sebuah keberagaman (diversity), dibawah pohon ini kami mengenal arti sebuah persahabatan tanpa adanya sekatan rasial (suku, agama, ras dan golongan). Di bawah pohon ini tidak ada dendam, walaupun tetap ada pertengkaran-pertengkaran kecil, bahkan perkelahian anak-anak, yang kemudian terselesaikan, yang ada hanya keceriaan, keindahan, kebaikan, harapan, persahabatan dan kebersamaan.
Kami biasa bermain dengan mainan murah dan berasal dari alam, kami bermai ”guli” (gundu/kelereng), kami biasa bermain ”tali merdeka” (menggunakan karet gelang yang dirangkai menjadi tali yang panjang), bermain ”petak umpet”, ”pecah beling”, gobak sodor/belon, sepak bola, kasti, bermain voli mini, ngadu biji asem, bermain senapan bambu (letup letup atau pletokan) atau hanya sekedar duduk-duduk di atas sebuah pipa ledeng yang membentang di tengahnya. Tentunya suasana ini akan bertambah meriah ketika musim kuini, jambu air dan rambutan tiba.

”Sekumpulan sistem berkaitan satu dengan lainnya, saling mendukung, dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Sebuah disain telah diciptakan ”

Tidak ada tembok perbedaan, baik mayoritas maupun minoritas, tidak ada sekat perbedaan antara Melayu dan Jawa, Tionghoa dan Padang, semua menganggap mereka adalah anak-anak Setajam. Inilah yang membuat saya tidak sadar bahwa saya lahir sebagai keluarga minoritas, Ibu seorang Tionghoa, ayah perantau dari negeri yang jauh (Tomohon – Sulawesi Utara), beragama Kristen ditengah penduduk mayoritas Islam, Bahkan seringkali kami sekeluarga sudah menganggap kami keturunan Melayu Riau, tidak pernah berbahasa Tionghoa (kecuali ibu – satu-satunya yang bisa), tidak bisa berbahasa Manado (karena Ayah tidak pernah menggunakannya), dan hanya berbicara bahasa Melayu Singkep, ya memang inilah bahasa rumah kami
Lahir dan besar tanpa sekatan, walaupun tidak sama tetapi hidup dalam keindahan keberagaman. Inilah miniatur Indonesia sesungguhnya. Di bawah pohon pohon kuini (mangifera odorata) inilah sesungguhnya Indonesia
Hari yang saya tunggu-tunggu diluar hari Natal adalah Hari Raya Idul Fitri (kami biasa menyebutkan dengan istilah ”hari raye”), karena inilah hari puncak segala keceriaan Dabo Singkep, semua orang berbaju baru, dengan beraneka ragam makanan dan minuman yang mengundang selera. Semua orang berkeliling saling mengunjungi setelah sholat ied, bersalaman penuh keceriaan, tanpa ada perbedaan, semua suku agama merayakannya. Seminggu penuh kami merayakannya, rasanya tidak ada hari-hari yang lebih indah kecuali hari raye.

Di rumah akan penuh dengan makanan yang dikirimkan tetangga, ketupat, sambal ”lingkung” (abon ikan), opor ayam, lontong, sate, ikan gulai, ”lakse” (laksa) dan randang daging menjadi sajian di rumah seminggu penuh. Dapur pun penuh denga ketupak yang menggantung. Hari raye ini akan berlangsung selama seminggu, kue-kue kering tersedia dengan minuman limun atau minuman ringan 7up, coca cola, fn, sarsi (soft drink), semua orang saling mengunjungi, bersalaman dan memaafkan.

Sebagai anak-anak pada masa itu, berkeliling mengunjungi tetangga (silaturahmi), teman sekolah, guru, teman ayah/ibu pada hari raya adalah sebuah keharusan. Saku celana pendek selalu penuh dengan koin dan uang kertas baru. Seminggu penuh bahkan terkadang lebih, kami merayakan Idul Fitri (hari raye) di Dabo Singkep, apapun agama dan sukunya keceriaan tetap sama, demikian juga pada saat Natal dan Imlek (kon-nyen/Sincia).
Kembang api, mercon, bedil (meriam bambu) menambah kemeriahan suasana hari raye, dentuman bedil/meriam bambu/pipa dengan karbitnya. Lampu-lampu minyak (pelita) dari kaleng minuman/botol menjadi hiasan malam sebelum lebaran, bahkan seminggu sebelum lebaran (biasanya dimulai dari tanggal 21 Ramadhan). Kami biasa menyebut tradisi ini dengan selikur, budaya yang berasal dari Jawa. Dan lampu-lampu minyak diletakkan di sekeliling halaman rumah setiap orang di kampung/desa kami, penuh cahaya. Tampak kemeriahan, gemerlap, dimana setiap orang keluar rumah sehabis sholat tarawih untuk sekedar saling berbincang dan bercanda. Anak-anak laki-laki bermain sembunyi-sembunyian, ada yang bermain pistol api, pletokan (letup-letup) dan ada bermain belon. Anak perempuan bermain tali merdeka (tali karet gelang), kembang api, balon tiup dan main buah saga di teras depan rumah. Inilah malam-malam terbaik di Setajam. Saya, Win, Nuai, Rizal, Andri, Riziah, Vera dan seluruh teman-teman setangsi bermain sampai tengah malam. Dan permainan yang paling mengasyikan adalah bermain sembunyi-sembunyian (hide and seek games).
”Hom pila hom pimpa! Nuai kena!” sahut teman-teman dan kemudian berlarian sembunyi, Nuai pun harus menutup matanya sambil menghadap dinding atau batang pohon, kami pun semua bersembunyi. Demikian kami terus bermain sampai salah satu dipanggil oleh orang tua, untuk tidur. Malam-malam selikur ini biasanya di meriahkan dengan kenduri yang dilakukan para tetangga, sebuah keindahan yang mungkin telah hilang hari ini.

”Sudah saatnya kita semua dipaksa untuk menyadari semua adalah satu,
kita adalah member of tribe homo sapien.

Tidak ada yang kebetulan, semua telah diciptakan Tuhan dengan maksud atau tujuan, lahir di kampung kecil bernama Setajam, dari keluarga sederhana dan minoritas, bersekolah di sekolah dasar (SD) Inpres yang sederhana dengan guru-guru sederhana. Bergaul dengan orang-orang berbeda, semuanya membawa maksud dan tujuan yang baik. Tidak ada yang buruk dari masa kecil, semua membawa saya mengerti bahwa lahir dari sebuah kesederhanaan dan keberagaman hidup, membawa saya bersyukur dengan apa yang saya terima hari ini.

”Tidak ada yang buruk dari masa kecil,
semua membawa kebaikan masa kini”
RUDY - Facebook-20150115-042216

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s