Rahasia Rumah Kayu


RUDY - 255064_2164129620773_1172598986_32627130_7607227_n
Tepat di bawah pohon kuini (mangifera odorata), saya memiliki rumah kayu yang hebat, saya membuatnya bersama-sama dengan teman-teman, kami pergi bersama ke hutan luar kampung berjarak 5-6 kilometer, mengumpulkan kayu-kayu dan bambu untuk dijadikan rumah bermain. Inilah rumah terbaik yang kami miliki luasnya hanya 4 meter x 3 meter, beralas papan, beratap daun rumbia dan berdinding bambu. Sepanjang siang dan terkadang malam kami menginap dan sekedar tidur-tiduran disana. Ini rumah kami sendiri, hasil karya sendiri. Di rumah kayu ini kami saling bercanda dan belajar untuk mengerti bahwa kehidupan memang indah, keberagaman yang ada bukan untuk saling menyakiti, keberagaman adalah untuk saling melengkapi. Memandang langit gelap dengan ribuan bintang, mengajak mimpi-mimpi masa kecil terbang mengawang tanpa batas. Bintang-bintang menjadi bahan pembicaraan tentang negeri yang indah nun jauh di atas sana, bintang-bintang tersenyum geli melihat anak-anak membicarakannya. Seakan tak mau pulang lagi, inilah rumah kayu kami. Hanya perut yang lapar yang memaksa kami pulang ke rumah kami masing-masing.
Beno, Nurdin, Win, Andri, Nuai, dan Rizal, selalu tertawa, bercanda sambil mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Banyak buku yang telah kami habiskan, buku-buku sejarah, buku himpunan pengetahuan umum (HPU), Ilmu alam, Ilmu sosial, dan buku dongeng anak-anak, buku-buku ini yang telah menjadikan saya anak yang selalu terdepan dalam rangking di sekolah, dan memampukan saya selalu memberikan solusi bagi setiap kesulitan teman-teman di kelas. Rumah ini adalah ”sekolah rumah” sekaligus rumah tempat bermain bagi kami semua.
Dengan lampu minyak/teplok (lampu tempel), membawa malam-malam di rumah kayu menjadi indah. Goyangan api lampu minyak menambah keindahan, bayangan kami tampak hidup dan bertumbuh. Terkadang kami kedatangan tamu bercahaya, kunang-kunang yang menghiasi gelapnya malam. Tak jarang kami ketakutan karena bagi kepercayaan di daerah kami, bahwa kunang-kunang berasal dari kuku orang yang sudah meninggal.
Menangkap dan memasukkan kunang-kunang ke dalam kantong plastik membawa fantasi tersendiri, kami kagum dengan apa yang Tuhan ciptakan, makluk kecil ini tidak pernah lelah untuk berkedip dalam kegelapan malam, seakan memberi kami semangat bahwa tidak ada kegelapan yang dibiarkan terus gelap, sekalipun terangnya hanya berkedip.
Rumah kayu inilah yang memberikan pengertian bahwa dunia ini indah, berbagai warna dan tawa menyatu menciptakan kekayaan kebersamaan.
Rumah rehat dari kepenatan hari sehabis bermain bola, sensasi bau keringat menguasai seluruh ruangan. Baju-baju kaos basah bergantungan di dinding, angin sepoi bertiup di antara dinding bambu yang tidak rapat, mengeringkan, untuk kembali dipakai ketika pulang kerumah. Cahaya malam pelita memendar diantara celah-celah dinding bambu menciptakan cahaya kelap kelip penuh pesona, pesona mimpi anak-anak. Biasanya kami bermain tebak-tebakan bayangan dengan membentuk hewan dari tangan.
”Ayo, tebak ini bentuk hewan apa?” tanya nuai kepada kami
”Sapi!” Jawab Win mencoba menebak.
”Salah!” Kata nuai penuh semangat.
”Anjing!, Kata saya dengan yakin.
”Benar!” Kata nuai sambil memberi jempolnya.
”Wow inilah rumah kami!”, rumah kami sendiri, tempat dimana kami merasa memiliki dunia.

”Tidak ada yang lebih hebat dari imajinasi dunia anak-anak”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s