Hamparan Kemunteng – Tempat Tanpa Kesedihan


FB_IMG_1424297269660
Hamparan pasir-pasir limpahan galian timah membukit berhektar di Setajam menjadi tempat petualangan yang mengasikkan, ribuan pohon kemunting menghiasi tanah-tanah tandus ini. Kaki-kaki kecil legam kapalan berlari tanpa lelah di antara pohon-pohon kemunteng (kemunting) yang berbuah lebat. Tiada hari tanpa musim kemunting di Setajam. Bagi kami buah kemunting adalah anugerah alam yang Tuhan sediakan di negeri langit ini. Tidak ada yang menanamnya, tidak ada yang menyiramnya bahkan tidak ada yang memeliharanya, semua tumbuh secara alami sebagai hadiah bagi anak-anak Setajam. Buah berwarna ungu kehitaman ini memang sangat cocok tumbuh di Dabo khususnya di kawasan eks penambangan yang berpasir, keistimewaan buah ini adalah rasanya yang manis dan dapat dimakan langsung.
Sehabis pulang sekolah kami biasanya berlari menuju hamparan hutan kemunting di dekat daerah batu kacang, berjarak 2-3 kilometer dari sekolah. Berlari penuh semangat menyonsong hamparan buah manis ungu kehitaman ini, berebut dan berlomba dengan ratusan burung-burung punai dan merbah yang memakan buah yang sama. Kantong-kantong plastik di siapkan untuk menampung hasil panenan. Acap kali kami menggunakan baju kaos sebagai wadah penampungan hasil panenan. Sering juga kami memasukkan buah kemunting ke dalam saku celana dan dimakan ketika sedang berenang di telaga/kolong. Amboi rasanya seru sekali, sambil berenang gaya punggung (gaya tiduran diatas air) dengan kaki mengayu dan tangan menyuap kemunting ke dalam mulut. Kami juga saling melempar kemunting yang kemudian disambut dengan sambaran dari mulut.
Area pohon kemunting memang menawarkan pesona yang luar biasa bagi kami, tanah gundukan yang berbukit kecil menjadi tempat rekreasi gratis terbaik untuk bermain tembak-tembakan, sembunyi-sembunyian atau hanya sekedar berguling. Bukit kecil berpasir yang ujungnya menjorok ke danau bekas galian timah, menantang kami untuk melompat laksana “peloncat indah profesional”, dengan setengah koprol/salto masing-masing kami menunjukkan kebisaan. Ada juga bukit miring menurun dengan ujungnya berakhir di pinggir kolong/telaga menjadi tempat terbaik untuk berselancar di atas pasir dengan menggunakan pelepah daun kelapa. Semuanya diakhiri dengan mencebur ke danau biru dengan airnya yang jernih. Kami biasanya membuat rakit yang terbuat dari batang pisang yang diikat dengan tali. Mengayuh rakit ketengah dan kemudian melompat salto adalah kesenangan terhebat kami. Airnya yang jernih menantang kami untuk menyelam sambil mencari koin yang dilemparkan ke danau.
Disinilah tempat tanpa kesedihan, semua tertawa seru penuh canda, membawa kami semua lupa akan waktu, akan hari yang lewat. Tempat melepas segala kepenatan belajar dan tugas-tugas sekolah. Langitnya yang biru cerah seakan menjadi saksi kebahagian anak-anak langit. Kami biasa menghabiskan waktu berjam-jam disini. Area hamparan kemunting ini juga adalah tempat terbaik berpetualang sambil berburu burung merbah dan punai. Buah kemunting yang hitam keunguan adalah salah satu makanan favorit bagi burung-burung.
Kami biasa membakar burung hasil tangkapan dengan tungku api yang dibuat dari batu dan kayu bakar yang diambil disekitar kami. Terkadang juga membakar belalang hasil tangkapan sambil menunggu celana bekas berenang kembali kering, untuk mengelabui orang tua kami yang sering kali melarang kami berenang di danau. Tidak ada yang kurang, alam sudah menyediakan bagi kami semua makanan yang terbaik disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s