SD Inpres Setajam – Bukan Sekolah Pilihan


Pertengahan tahun 1978 adalah tahun sekolah kami berdiri, hanya ada 3 kelas, kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Saya duduk dikelas 2 (sebelumnya saya menghabiskan kelas 1 di SD Negeri 2 Sungai Lumpur Dabo, sekolah yang jauh lebih baik secara fasilitas dan mutu pendidikan). Sesungguhnya saya tidak pernah memilih sekolah ini, tetapi dipaksa untuk pindah ke sekolah baru ini.
Tanpa pemberitahuan lebih dulu, dengan iming-iming akan pergi berwisata, kami semua diminta berbaris dan di giring berjalan kaki menuju sekolah baru. SD bukan pilihan ini menyambut kami dengan seorang pria kurus jangkung, sedikit botak sambil tersenyum.
Semua anak-anak berbaris sesuai dengan kelasnya, setiap kelas berbaris memanjang kebelakang tak beraturan, suara-suara bak lebah terdengar masih sangat keras. Suara-suara kebingungan, banyak pertanyaan ada di benak kami, kenapa kami harus kesini. ”Mana tempat wisatanya?, ”Kok kita pergi ke sekolah baru?”.”Wadu panas sekali ya sekolah ini?…..tiba-tiba ada suara berkumandang diantara kami. Seorang pria berperawakan kurus tinggi, muka lonjong dengan kumis tipis berumur 40 tahun menyapa dengan ramah.
”Selamat pagi!, Selamat datang anak-anak, di sekolah hebat, disinilah masa depan kalian disiapkan, ”Sapa sambutan dengan ramah dari seorang pria jangkung yang belum kami kenal.

Saya hanya bingung begitu juga yang lain, karena apa yang dikatakan pria ini berbeda dengan kenyataan yang ada di hadapan kami,
”Bagaimana apakah kalian semua sudah siap untuk belajar? ”Lanjutnya penuh senyum.
”Ya siap!. ”Jawab anak-anak pelan, tak bersemangat.
Pria jangkung menyadari jawaban anak-anak adalah ekpresi dari ketidaksukaan dan kebingungan, karena sekolah ini bukan pilihan mereka.

”Bapak yakin kalian akan betah disini, dan kalian pasti akan menjadi orang hebat!, ”Mencoba meyakinkan kami semua.
Anak-anak pun diam menunduk tanpa ekspresi.
”Oh ya, hampir lupa, perkenalkan, nama Bapak adalah E. Tauran, Bapak sebagai kepala sekolah sekaligus guru bagi kalian semua.”
”Kalian akan melewati tahun-tahun yang hebat bersama Bapak dan beberapa guru lainnya, ”Lanjutnya.

Pak Tauran, demikian kami memanggil kepala sekolah yang juga sekaligus guru kami yang baru ini. Kepala sekolah kurus dan jangkung inilah yang kemudian meletakkan dasar pendidikan di sekolah kami. Bapak jangkung sederhana ini telah membawa kami anak-anak SD inpres (Instruksi Presiden) memiliki mimpi, mimpi tentang masa depan, mimpi tentang keindahan hidup, mimpi tentang persahabatan dan mimpi tentang kesuksesan.
Pendekatan pembapaan, kepintaran dan kesederhanaan mengubah persepsi kami padanya dan sekolah baru ini, termasuk membawa kami semua segan dengan Bapak kepala sekolah satu ini.
Tidak ada fasilitas yang lebih yang ia miliki, hanya kemeja safari sederhana, tas kulit butut dengan sepeda ontel tua yang senantiasa menemani kemana pun ia pergi. Wajahnya yang selalu tersenyum memberikan kami semangat dan percaya bahwa sekolah kami yang sederhana ini akan melahirkan orang-orang hebat dikemudian hari. Kepalanya yang sedikit botak di depan menunjukkan bahwa bapak kepala sekolah kami adalah seorang yang cerdas, kemampuan ia mengajar dengan konsep-konsep yang sederhana dan alami telah membawa kami mampu dengan mudah menangkap semua pelajaran. Pak Tauran adalah perpustakaan berjalan bagi kami murid-muridnya.
Tipe seorang kepala sekolah pengabdi yang hebat, tidak pernah mengeluh dengan apa yang ia terima, baginya memberi adalah ibadah dan warisan bagi anak-anak didiknya.

”Baginya memberi adalah ibadah dan warisan”

Suatu kali Pak Tauran bercerita, ”Suatu hari di negeri antah beranta, ada seorang bijak yang tampak bersujud syukur di jalan.
Seseorang lewat menegurnya. ”Ada apa?” ,Tampak bapak sedang menyenangi sesuatu?”
”Aku tengah berterima kasih kepada Tuhan, keledaiku hilang!” Jawab orang bijak.
”Keledaimu hilang dan kau berterima kasih?” Si lewat bertanya penuh keheranan.
”Ya, Aku berterima kasih keledaiku hilang sendiri.
Bayangkan kalau aku sedang menungganginya, aku pasti ikut hilang juga!”
”Ha ha ha ha, ”Semua anak tertawa mendengarnya.

Ya demikian, selalu saja banyak cerita lucu penuh hikmat dan pesan yang dalam bagi kami. Kami selalu menantikan cerita-cerita hikmatnya.
Pak Tauran berkata, ”Guru yang tanpa humor, akan dikenakan tuntutan perbuatan yang tidak menyenangkan…..ha ha ha”

Sekolah yang sangat sederhana berdinding papan, kawat besi dan beratap seng karat. Sekolah yang sangat panas karena berdiri di atas area pasir bekas pembuangan galian timah (kolong), hanya pohon kemunting (rhodomyrtus tomentosa), pohon nasi-nasi, dan senodok/senduduk (melastomo malabathricum) saja yang mampu hidup, karena merupakan area tanah tandus nyaris tanpa humus. Udaranya yang panas membuat bau sepatu menguasai dan terasa kuat dimana-dimana. Maklumlah pada masa itu kami semua hanya mampu membeli sepatu plastik murah berwarna putih. Banyak juga teman-teman di kelas yang masih menggunakan sendal jepit.

Suatu kali saya bertanya kepada Pak Tauran, ”Mengapa bapak bertahan di sekolah kecil dan buruk ini?”, ”Seharusnya bapak minta dipindahkan ke sekolah yang lebih bagus seperti SD Negeri 2 atau PN?”
Sambil tersenyum ia menjawab, ”Kitalah yang memilih peran dalam hidup, pilihlah peran bukan menunggu-nunggu atau meminta-minta, tetapi memberi.”
Boleh ngak saya bertanya lagi, ”Tanyaku agak ragu, karena takut dibilang cerewet.
”Soal apa anakku?” Tanpa merasa terganggu ia memberi kesempatan.
”Mengapa bapak selalu kelihatan bersemangat?” Tanya ku pelan.
”Anakku, dalam kehidupan, tidak ada tindakan yang berdampak tanpa semangat atau antusias! Tidak ada yang luar biasa tanpa kesungguhan! Dan tidak ada yang istimewa tanpa berani berkorban!” ,Jelasnya datar tapi menusuk ke dalam hati.

”Kitalah yang memilih peran dalam hidup, pilihlah peran bukan menunggu-nunggu atau meminta-minta, tetapi memberi.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s