Tim Samba Setajam


Sekolah kami memiliki tim sepakbola hebat, mungkin paling hebat di dunia yang kami ketahui pada waktu itu. Beno, Nurdin, Kudil, Untung, Agus dan Nazer, ini ”samba kecil” Setajam. Tiada jam istirahat tanpa bermain bola, anak-anak berlari seperti kilat keluar dari kelas menuju lapangan berpasir putih kekuningan, tiang-tiang gawang yang terbuat dari kayu menjadi saksi bagaimana ”Maradona” kecil Setajam mengejar bola, merebut, menggojek dan menendang. Tidak ada sepatu bola, tidak ada seragam, yang ada semangat dengan bau keringat yang menyengat dan debu pasir menempel disekujur tubuh. Saya biasa bermain di sayap kiri, Beno sebagai playmaker dan Nazer sebagai palang pintu di belakang (libero). Kudil bermain dengan lincah sebagai striker. Perpaduan suku asal Dabo (melayu), jawa dan satu orang manado yang terperangkap dalam budaya melayu, bermuka mirip Tionghoa berhati melayu, berkulit putih bule kemerahan karena dibakar matahari. Tidak ada pertentangan yang ada, satu hal yaitu kebahagiaan dan kebersamaan. Saling mengoper dan membagi bola, saling mendukung dan berteriak untuk satu tujuan, menjadi juara antar sekolah dasar se-Dabo. Sebagai sekolah baru dengan hanya memiliki beberapa kelas, tim hebat ini pergi menantang SD negeri lainnya dan SD PN (milik PT. Timah), kami bukanlah tim yang diunggulkan dibandingkan sekolah mapan lainnya. Tidak ada baju seragam bagus, yang ada hanya baju putih yang di wantek (diwarnai menggunakan pewarna) dan diberi nomor dengan cat minyak, semua dibuat sendiri tanpa beli. Tidak ada sepatu bola, bahkan beberapa teman bermain dengan ”kaki ayam” (tanpa alas kaki atau sepatu).
Tetapi Pak Tauran kepala sekolah sekaligus pelatih selalu berkata, ”Bagi kita tujuan bermain adalah kesukaan dan kemenangan adalah hasilnya. Percayalah kepada Tuhan untuk kebaikan, dengan mempersilakan-Nya bekerja bagimu semustahil mungkin”.
Tahun 1982 dalam sebuah pertandingan besar antar sekolah dasar, tim kami tidak diunggulkan, tetapi lewat perjuangan dan kepercayaan diri yang besar kami berhasil menjadi juara 3 tingkat kecamatan, sebuah pencapaian hebat dari tim kecil ini. Sebuah kebanggaan yang selalu diingat bagi sekolah yang belum pernah mendapatkan tropi apapun sebelumnya, tidak ada piala dan piagam penghargaan yang tergantung di dinding dan tersimpan di lemari sekolah. Pencapaian yang membawa mentalitas pemenang bukan bagi kami saja, tetapi bagi adik-adik kelas generasi berikut, yang kemudian selalu menjadi pemenang dalam setiap pertandingan.
Semua berawal dari suatu siang yang terik, Pak Tauran memanggil kami untuk bercerita sebagai bahan renungan.

”Tahukah kalian anak-anak, bahwa burung terkecil di dunia ini bukan burung pipit, tetapi burung kolibri dan burung terbesar bukan elang, tetapi burung onta. Burung kolibri memiliki bobot paling ringan di dunia, ia hanya memiliki berat 10 miligram saja yang mungkin sulit baginya untuk menahan hembusan angin, tetapi ia memiliki kecepatan sayap tercepat di dunia yaitu sebanyak 75 kali kepakan sayap per detik. Sementara burung onta besar sekali, beratnya mencapai 150 kilogram, hal ini memungkinkan ia melawan angin, tetapi tahukan kalian bahwa burung onta tidak bisa terbang.”

”Jadi setiap kita memiliki titik kekuatan dan kelemahan, sebagaimana cerita bapak diatas, kita harus memaksimalkan kekuatan kita dan bukan memandang kelemahan kita, sebagai sekolah yang kecil, ”Lanjutnya penuh semangat.

Tanpa beban dan secepat kilat kami berlari, seringan kaki kami mengoper, semua bermain ringan penuh tawa, keringat menetes bak hujan, muka berpeluh mengalir membasahi seragam yang kelunturan, pasir-pasir dan debu halus lengket hampir diseluruh tubuh, kami bukan terhebat dalam kemampuan, yang kami miliki hanya sebuah keyakinan. Keyakinan yang ditanamkan, bukan keyakinan yang diukir pada papan dinding sekolah tetapi dalam hati kami. Sebuah keyakinan hebat dari kepala sekolah hebat. Dan kesungguhan pencapaian yang kami berikan pada pemberi inspirasi, guru dan bapak kepala sekolah kami, Bapak E Tauran. Beliau berpesan, ”Nikmati proses permainannya, berikan yang terbaik, dan jangan pernah lupa bahwa apapun yang ingin kalian lakukan, dibutuhkan kerja sama dan keras untuk meraih impian.”
Hadir tanpa banyak berteori, hadir dengan senyumnya yang khas, pembapaan, hadir dengan mata penuh keyakinan bahwa dari sekolah kecil ini akan ada orang-orang hebat di masa depan. Anak-anak pasir ini akan melesat bagaikan anak panah menuju negeri impian mereka masing-masing.

”Anak-anak pasir ini akan melesat bagai anak panah menuju negeri impian mereka”

Tidak hanya sampai disini, bahkan beberapa tahun kemudian, di awal tahun 1990an, Beno, Untung, Kudil, Nazer dan Nurdin berhasil membawa kampung kecil kami, Setajam menjadi juara antar kampung se-kecamatan Singkep. Saya berkesempatan melihat bagaimana mereka memenangkan piala, sewaktu saya liburan pulang sebentar ke Dabo, awal tahun 1994. Dengan bangga saya menyaksikan dari pinggir lapangan, dan terharu mengingat bagaimana dulu kami bermain. Mental pemenang dibentuk di lapangan pasir yang berdebu, tanpa alas kaki mereka berlari, mengejar dan kemudian diakhiri dengan terjun ke sungai pinggir sekolah yang jernih dan dingin. Inilah tim hebat dengan pelatih hebat, anak-anak pasir, sekalipun mereka tidak pernah memenangkan kejuaraan nasional. Sebuah rahasia kebersamaan tim dibukakan, sebuah tim yang hebat bukan memiliki pemain hebat dengan tujuan masing-masing, tetapi yang mendahulukan tujuan tim, mereka bermain dalam peran hebat mereka dengan kesadaran tujuan tim diatas segalanya.

”Sebuah tim hebat bukan memiliki pemain hebat dengan tujuan masing-masing, tetapi yang mendahulukan tujuan tim ”20141223_170157

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s