Sungai Pinggir Sekolah


Sungai kecil mengalir di samping sekolah yang menyisakan sedikit tanah subur di sampingnya, tempat untuk kami membuat kebun sekolah menanam ubi jalar dan ubi kayu.
Hanya dibantu 4 ibu guru hebat, ibu Rusmiyati, Ibu Chotijah, Ibu Hasana, dan Ibu Suryati, masa depan anak-anak Setajam, anak-anak Bukit Abun dan Bukit Kapitan dibangun (Bukit Abun dan Bukit Kapitan adalah tetangga kampung kami).
Lewat guru yang sederhana dan pintar inilah saya mengenal dunia dan pengetahuan. Kami belajar nama-nama ibu kota dunia, pulau-pulau di Indonesia dan dunia, nama raja-raja/kerajaan di Nusantara, nama kota-kota di Nusantara, dan di sekolah ini kami selalu bermain sepak bola. Tidak ada olahraga favorit lain selain sepak bola, terkadang kami juga bermain kasti dan belon (gobak sodor). Di lapangan pasir yang tandus nan panas kami bermain hampir sepanjang waktu istirahat atau pulang sekolah. Debu-debu pasir oleh kaki-kaki kecil yang berlari, bola kulit yang butut, terkadang hanya berupa bungkusan kertas koran bekas yang diikat karet yang dijadikan bola, dan tiang gawang dari tumpukan sepatu, telah membentuk anak SD Inpres Setajam menjadi sekolah pemain-pemain bola hebat di tingkat kecamatan Dabo singkep.
Tiada hari tanpa sepak bola, setiap kesempatan istirahat kami selalu bermain. Debu-debu pasir melekat pada muka dan baju kami yang berkeringat, tanpa baju olah raga. Mimpi menjadi Mario Kempes, Ardiles dan Pasarella membawa kami mengejar, menendang dan menggocek bola laksana pemain kelas dunia. Kami mengenal nama-nama pemain dunia dari radio dan cerita kakak-kakak di rumah. Ah inilah potret anak-anak kampung yang ingin menjadi pemain hebat kelas dunia.
Dan sungai disamping sekolah menjadi tempat terbaik untuk menghilangkan rasa lelah, kepanasan dan debu-debu yang melekat sehabis bermain bola. Pada masa itu, sepakbola menjadi satu-satunya olah raga yang dapat diandalkan dari sekolah kami, karena tidak ada fasilitas untuk olah raga lain, hanya lapangan pasir yang panas dengan tiang gawang dari tumpukan sepatu. Bahkan telah membawa sekolah kami menjadi terdepan dan juara dalam setiap turnamen tingkat sekolah dasar di Dabo Singkep
Kaki-kaki kecil kami sudah terbiasa dengan panas pasir dan teriknya matahari. Alam telah membentuk anak-anak Setajam menjadi pemain alam. Tanpa sepatu kami menggiring dan menendang bola, tanpa seragam kami berkeringat mengejar gol-gol kelas dunia. Kami gembira dengan gol-gol yang tercipta, meringis dengan luka-luka pada kaki, dan tersenyum puas penuh persahabatan ketika pertandingan usai. Beno dan Udin adalah pemain andalan kelas kami, kemampuan bermain mereka diatas rata-rata. Mereka berdua memang terlahir untuk menjadi pemain bola. Ayahnya mereka adalah mantan penjaga gawang hebat tingkat kecamatan. Sayangnya belum ada sekolah bola dan klub sepakbola pada masa itu di kampung kami. Bakat-bakat yang tidak dapat berkembang maksimal karena situasi dan keadaan yang memaksa. Beno seorang pemain lapangan tengah yang handal dan Udin adalah pemain depan yang lincah dan cepat. Saya biasa bermain di sayap, terkadang menjadi penyerang. Masih banyak-banyak anak-anak Dabo lainnya yang hebat, sayangnya ibarat bunga, mereka layu sebelum berkembang.

”Tanpa sepatu, tanpa seragam kami berkeringat mengejar gol-gol kelas dunia”

FB_IMG_1424298236779

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s