TEORI SERIBU KELERENG


Seorang Ayah sedang menikmati ketenangan IMG00471-20110625-1338pagi pada Sabtu pagi yang indah, sambil menyeruput secangkir kopi panas dan membaca Koran pagi dan mendengar radio tua yang menyiarkan acara berita pagi. Dan terlintas dalam sebuah bincang-bincang, terdengar suara seseorang yang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara dengan seseorang mengenai teori kehidupan. Penyiar tua ini menyapa para pendengarnya dengan sapaan Tom. Ia berkata Hai Tom kedengarannya anda sedang sibuk dengan pekerjaaan anda. Saya yakin perusahaan anda membayar anda dengan baik, namun sungguh menyedihkan jika Anda sering meninggalkan keluarga Anda karena waktu anda yang panjang, sunggu sangat disayangkan jika anda harus absen menghadiri acara penampilan tarian putri anda,
Saya ingin berbagi kepada anda bagaimana saya mengatur prioritas utama dalam hidup saya

Kemudian bapak tua itu mulai bercerita mengenai sebuah teori yang dinamakan TEORI SERIBU KELERENG

Pada suatu hari aku sedang duduk dan tiba-tiba terlintas sebuah perhitungan perkalian. Umumnya umur orang rata-rata adalah 75 tahun. Aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun.
Lalu, saya mulai mengalikan 75 tahun ini dengan 52 minggu (setahun ada 52 minggu). dan saya mendapatkan angka 3900, angka ini memberikan arti bahwa rata-rata manusia memiliki 3900 hari sabtu dalam hidupnya.

Sekarang perhatikan Tom, aku mau mengatakan hal yang lebih penting lagi.
Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun hal ini baru terpikir olehku, sambungnya. Dan pada saat itu aku sudah melewatkan 2900-an hari Sabtu.
Dan jika saya mampu hidup sampai 75 tahun, maka hanya tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati.

lalu aku memutuskan untuk pergi ke toko mainan dan membeli semua kelereng yang ada. Aku sampai mengunjungi tiga toko, baru mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang dan kumasukkan dalam sebuah kotak plastic/toples yang bening yang kuletakkan di meja kerjaku. Sejak hari itu setiap hari Sabtu, aku selalu mengambil sebutir kelereng dan membuangnya.

Aku menyadari, bahwa dengan mengamati kelereng-kelereng itu semakin berkurang, aku semakin memfokuskan diriku pada hal-hal yang penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini semakin berkurang, untuk membantumu membenahi dan meluruskan segala prioritas yang ada hidupmu.

Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum aku mengakhiri pembicaraan ini dan mengajak istriku tersayang untuk menikmati sarapan pagi. Pagi hari ini, aku telah mengambil kelereng terakhirku.
Aku berfikir, kalau aku masih hidup hingga Sabtu yang akan datang, maka Tuhan telah memberi aku sedikit waktu tambahan untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi.

Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kamu bisa melewatkan lebih banyak waktu bersama keluarga dan orang-orang yang kamu kasihi, dan aku berharap bisa berbincang-bincang lagi denganmu. Selamat pagi!
Saat dia berhenti suasana begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarum pun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itu pun membisu. Mungkin ia mau memberi kesempatan kepada para pendengarnya, untuk memikirkan segalanya.

Sebenarnya aku sudah merencanakan mau pergi kerja hari itu, tetapi aku ganti acaranya, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak sarapan di luar. Lho, ada apa ini???, tanyanya tersenyum.
Ah, tidak ada yang spesial, “jawabku,
Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak, Oh ya, nanti kita mampir juga di toko mainan ya Aku mau beli kelereng!

Berapa banyakkah kelereng yang tersisa bagi Anda saat ini???

Gunakanlah waktumu secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik lagi bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.

(Diambil dari internet, dengan perubahan seperlunya.)

Advertisements

One thought on “TEORI SERIBU KELERENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s