KISAH EMBER BOCOR


Dikisahkan, ada seorang petani yang tinggal di rumah sederhana dengan sungainya yang bermata air jernih, bersih dan segar. Setiap hari ia mengambil air untuk memenuhi bak mandi untuk kebutuhan keluarganya. Rumahnya yang berada diatas bukit memaksanya untuk setiap hari mengambil air di sungai yang jernih di lembah yang berjarak ratusan meter.

Dengan pikulan dan ember kayu di kiri kanan tubuhnya, setiap hari dilaluinya bolak balik jalan sepanjang satu kilometer. Sayangnya satu ember utuh, dan ember yang lain bocor—ada beberapa lubang kecil di sana (ember yang tak sempurna). Dengan ember yang utuh, air dibawa petani sampai ke tujuan dengan utuh, tanpa ada yang kurang, Sedangkan ember yang bocor, ketika sampai di tujuan hanya tersisa setengah ember air saja. Si ember utuh merasa bangga sekali dengan hasil kerjanya karena berhasil membawa semua air yang diangkat petani, sedangkan si ember bocor semakin lama merasa semakin frustasi. Karena tidak sempurnanya hasil kerjanya.

Dia pun berkata kepada si petani, “Tuan, saya selalu merasa sedih dan malu sekali dengan apa yang saya capai. Saya ingin minta maaf…”, “saya merasa tak berguna”

“Kenapa kamu merasa malu dan berguna?” Tanya tuannya.

“Selama saya disini, saya cuma bisa menyumbangkan setengah ember air ke rumah majikan. Gara-gara saya, mesti tuan telah bekerja keras tetapi hasilnya tidak seimbang dengan tenaga yang tuan keluarkan.” Petani terdiam menyimak kata-kata si ember bocor sebelum menjawab, “Di perjalanan pulang nanti, perhatikanlah baik-baik tepian jalan berbunga yang setiap hari kita lalui.” Saat perjalanan pulang, si ember bocor pun memperhatikan tepi jalan yang mereka lewati.

Di bawah sorot hangat sinar matahari, bunga-bunga beraneka warna tumbuh berkembang disepanjang jalan. Melihat pemandangan yang indah itu, si ember merasa terhibur hatinya. “Lihatlah bunga-bunga yang tumbuh di sisi sebelahmu dan tidak tumbuh di sisi ember utuh. Itu karena saya sengaja menabur benih bunga di sisimu dan kamu yang menyirami setiap hari ketika kita melewati jalan ini. Indah sekali kan?

Bunga-bunga itu kupetik untuk dipajang di rumah kita, juga kuberikan untuk kekasihku dan semua orang yang aku sayangi, dan mereka pun semakin sayang kepadaku. Kalau tidak ada kamu, rumah kita tidak akan seindah itu dan cintaku pun tidak akan semesra ini. Ha ha! Aku lah yang seharusnya berterima kasih kepadamu!” kata si petani panjang lebar, dengan riang.

Mendengar semua perkataan itu, si ember bocor merasa senang dan bersyukur karena ternyata walaupun dirinya tidak utuh lagi tetapi masih bisa berguna dan membahagiakan orang.

Jangan rendahkan dirimu dengan segala kekurangan yang engkau miliki, tetapi bersyukurlah sebab Sang Pencipta akan memakai engkau bukan dari kelebihan tetapi dari kelemahan yang engkau miliki.
Tidak ada yang tidak berguna bagi Tuhan, semua kita dipakai untuk kemuliaan namaNya.
AMIN

Be A Great Fighter!

FB_IMG_1444737224759

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s